Berpikir Besar..
Kita semua, lebih dari yang kita sadari, adalah produk dari cara berpikir disekeliling kita. Dan kebanyakan dari cara berpikir ini adalah kecil, tidak besar. Semua disekeliling kita (teman, saudara, keluarga) adalah lingkungan yang berusaha menarik kita kebawah –ke keadaan sedang-sedng saja. Kita diberitahu hampir setiap hari bahwa sukses adalah hanya untuk orang-orang yang memilik imateri atau keahlian lebih. , dan sedikit kesempatan untuk kita menuju ke atas meraih cita-cita. Jadi, mengapa berusaha keras mendapatkan sesuatu yang mustahil.
Lingkungan kecil ini mengatakan hal-hal lain pula bahwa “apapun yang terjadi , terjadilah , dan takdir berada diluar kendali kita”. Jadi, lupakan mimpi-mimpi itu ,lupakan rencana masa depan, lupakan kehidupan yang lebih baik, mundurlah. Berbaringlah dan nantikan apa yang datang kepada kita. Dan lingkungan yang negatif memaksa pikiran kita untuk tidak usah melakukan apa-apa. Dan lakukanlah pekerjaan biasa-biasa saja, inilah takdir kita. Sepertinya rasa takut telah menguasai pikirannya.
Tokoh seperti Nabi Daud pernah menulis, “manusia sesungguhnya adalah apa yang ia pikirkan di dalam hatinya” .Tokoh seperti Emerson mengatakan “manusia yang agung adalah mereka yang mgetahui bahwa pikiran menguasai dunia”. Tokoh yang amat extreem seperti shakespeare yang melihat “tak ada yang baik atau buruk kecuali pikiran membuatnya demikian”.
Jika pikiran kecil hanya membawa kita ke arah sedang-sedang saja, maka cobalah untuk berpikir besar. Rencanakanlah masa depan, buatlah daftar kegiatan rutin –seperti: belajar, membaca, bertanya, berdo’a – yang akan mendorong kita ke arah yanglebih baik. Aturlah lingkungan kita, dan memohonlah kepada Tuhan untuk kehidupan indah yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dan cobalah untuk mengendalikan takdir. Berusahalah…,, karena– seperti firman-Nya “Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu yang berusaha merubahnya sendiri”. (by: David J Swartz dan sedikit modifikasi)
